| SIFAT-SIFAT
KETUHANAN
Adapun
yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat: |
| 1. |
Sifat Nafsiyah,
yaitu Wujud |
| 2. |
Sifat Salbiyah yaitu,
Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat |
| 3. |
Sifat Ma’ani, yaitu,
Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam |
| 4. |
Sifat Ma’nawiyah,
yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun |
Dibahagi lagi menjadi
dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat) |
| 1. |
Sifat Istighna’
yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi,
Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun |
| 2. |
Sifat Iftikor, yaitu
Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah |
|
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~
Bahagian
I: Sifat Nafsiyah:
Wujud,
artinya ada, yang ada itu dzat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, artinya tiada
yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala
itu tiada karena jikalau Allah Ta’ala itu tiada niscaya tiadalah perobahan
pada alam ini. Alam ini jadilah statis (tak ada masa, rasa dll), dan tiadalah
diterima 'aqal jika semua itu (perobahan) terjadi dengan sendirinya.
Jikalau alam ini
jadi dengan sendirinya niscaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau
berat salah satu maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana
yang kita lihat sekarang ini dan teratur tersusun segala pekerjaannya maka
menerimalah aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada.
Adapun dalilnya yaitu firmannya dalam Al Qur’an:
Allahu kholiqu kullu
syai’in
artinya, Allah Ta’ala
jualah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.
Adapun Wujud itu
sifat Nafsiyah ada itulah dirinya hak Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah
itu: Hiya huwa wala hiya ghoiruku, artinya, sifat inilah dzat hak Ta’ala,
tiada ia lain daripadanya yakni sifat pada lafadz dzat pada makna
Adapun Hakikat sifat
nafsiyah itu : Hiya lhalul wajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru mu’alalahi
bi’illati, artinya: hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu tiada
dikarenakan dengan suatu karena yakni adanya yaitu tiada karena jadi oleh
sesuatu dan tiada Ia terjadi dengan sendirinya dan tiada Ia menjadikan
dirinya sendiri dan tiada Ia berjadi-jadian.
Adapun Wujud itu
dikatakan sifat Nafsiyah karena wujud menunjukkan sebenar-benar dirinya
dzat tiada lainnya dan tiada boleh dipisahkan wujud itu lain daripada dzat
seperti sifat yang lain-lain.
Adapun Wujud itu
tiga bahagi: |
| 1. |
Wujud Haqiqi, yaitu
dzat Allah Ta’ala maka wujud-Nya itu tiada permulaan dan tiada kesudahan
maka wujud itu bersifat Qadimdan Baqa’, inilah wujud sebenarnya |
| 2. |
Wujud Mujazi, yaitu
dzat segala makhluk maka wujudnya itu ada permulaan dan ada kesudahan tiada
bersifat Qadim dan Baqa’, sebab wujudnya itu dinamakan wujud Mujazi karena
wujudnya itu bersandarkan Qudrat Iradat Allah Ta’ala |
| 3. |
Wujud ‘Ardy, yaitu
dzat ‘Arodul wujud maka wujudnya itu ada permulaan dan tiada kesudahan
seperti ruh, syurga, neraka, Arasy, Kursi dan lain-lain |
Adapun yang Mawujud
selain Allah Ta’ala dua bahagi |
| 1. |
Mawujud dalam ‘alam
sahadah, yaitu yang di dapat dengan khawas yang lima seperti langit, bumi,
kayu, manusia, binatang dan lain-lain |
| 2. |
Mawujud didalam
‘alam ghaib yang tiada didapat dengan khawas yang lima tetapi didapat dengan
nur iman dan Kasaf kepada siapa-siapa yang dikaruniakan Allah Ta’ala seperti
Malaikat, Jin, Syaitan, Nur dan lain-lain. |
Adapun segala yang
Mawujud itu lima bahagi: |
| 1. |
Mawujud pada Zihin
yaitu ada pada ‘aqal |
| 2. |
Mawujud pada Kharij
yaitu ada kenyataan bekas |
| 3. |
Mawujud pada Khayal
yaitu seperti bayang-bayang dalam air atau yang didalam mimpi |
| 4. |
Mawujud pada Dalil
yaitu ada pada dalil seperti asap tanda ada api |
| 5. |
Mawujud pada Ma’rifat
yaitu dengan pengenalan yang putus tiada dapat diselingi lagi terus Ia
Ma’rifat kepada Allah Ta’ala |
Membicarakan Wujud-Nya
dengan jalan dalil: |
| 1. |
Dalil yang didapat
dari Khawas yang lima tiada dapat didustakan |
| 2. |
Dalil yang didapat
dari Khabar Mutawatir tiada dapat didustakan |
| 3. |
Dalil yang didapat
daripada ‘Aqal tiada dapat didustakan |
| 4. |
Dalil yang didapat
daripada Rasulullah tiada dapat didustakan |
| 5. |
Dalil yang didapat
daripada firman Allah Ta’ala tiada dapat didustakan |