| Ilmu
Tauhid
Adapun
pendahuluan masuk pada menjalankan ilmu tauhid itu berhimpun atas tiga
perkara: |
| 1. |
Khawas yang lima
yaitu, Pendengar, Penglihat, Pencium, Perasa lidah dan Penjabat |
| 2. |
Khabar Mutawatir,
yaitu khabar yang turun menurun. Adapun khabar mutawatir itu dua bahagi:
| a. |
Khabar
Mutawatir yang datang daripada lidah orang banyak |
| b. |
Khabar Mutawatir
yang datang daripada lidah rasul-rasul |
|
| 3. |
Kandungannya yaitu
mengandung pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan
kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau
ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang
yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk
untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu. |
|
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~
|
| Aqal
Adapun
‘Aqal itu dua bahagi : |
| 1. |
‘Aqal Nazori, yaitu
aqal yang berkehendak kepada fikir dan keterangan. |
| 2. |
‘Aqal Doruri, yaitu
aqal yang tiada berkehendak kepada fikir dan keterangan. |
| Adapun
Hukum ‘Aqal itu tiga bahagi: |
| 1. |
Wajib ‘Aqal, yaitu
barang yang tiada diterima oleh aqal akan tiadanya maka wajib adanya (Zat,
Sifat dan Af’al Allah) |
| 2. |
Mustahil ‘Aqal,
yaitu barang yang tiada diterima oleh aqal akan adanya maka mustahil adanya
(Segala kebalikan daripada sifat yang wajib, sekutu) |
| 3. |
Harus ‘Aqal, yaitu
barang yang diterima oleh akal akan adanya atau tiadanya (Alam dan segala
isinya yang baharu/diciptakan) |
|
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~
Mumkinun
(Baharu Alam)
Adapun
yang wajib bagi ‘Alam mengandung empat perkara: |
| 1. |
Jirim, yaitu barang
yang beku bersamaan luar dan dalam seperti, batu, kayu, besi dan tembaga |
| 2. |
Jisim, yaitu barang
yang hidup memakai nyawa tiada bersamaan luar dalam seperti manusia dan
binatang |
| 3. |
Jauhar Farad, barang
yang tiada boleh dibelah-belah atau dibagi-bagi seperti asap, abu dan kuman
yang halus-halus |
| 4. |
Jauhar Latief, yaitu
Jisim yang halus seperti ruh, malaikat, jin, syaiton dan nur |
Wajib bagi Jirim,
Jisim, Jauhar Farad dan Jauhar Latief bersifat dengan empat sifat: |
| 1. |
Tempat, maka wajib
baginya memakai tempat seperti kiri atau kanan, atas atau bawah, hadapan
atau belakang |
| 2. |
Jihat, maka wajib
baginya memakai jihat seperti utara atau selatan, barat atau timur, jauh
atau dekat |
| 3. |
Berhimpun atau bercerai |
| 4. |
Memakai ‘arad, yaitu
gerak atau diam, besar atau kecil, panjang atau pendek dan memakai rasa
seperti manis atau masam, masam atau tawar dan memakai warna-warna seperti
hitam atau putih, merah atau hijau dan memakai bau-bauan seperti harum
atau busuk |
|
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~
Hukum
Adat Thobi'at
Adapun
yang wajib bagi hukum adat Thobi’at yang dilakukan didalam dunia ini sahaja,
seperti makan, apabila makan maka wajib kenyang sekedar yang dimakan begitu
juga api apabila bersentuh dengan kayu yang kering maka wajib terbakar,
dan pada benda yang tajam yang apabila dipotongkan maka wajib putus atau
luka.
Dan begitu juga pada
air apabila diminum maka wajib hilang dahaga sekedar yang diminum. Adapun
yang mustahil pada adat Thobi’at itu tiada sekali-kali seperti makan tiada
kenyang, minum tiada hilang dahaga, dipotong dengan benda yang tajam tiada
putus atau luka dan dimasukkan didalam api tiada terbakar. Akan tetapi
yang mustahil pada adat itu sudah berlaku pada nabi Ibrahim as di dalam
api tiada terbakar dan pada nabi Isma’il as dipotong dengan pisau yang
tajam diada putus atau luka .
Adapun yang mustahil
pada adat itu jika berlaku pada rasul-rasul dinamakan Mu’jizat, jika berlaku
pada nabi-nabi dinamakan Irhas, jika pada wali-wali dinamakan Karamah,
dan jika pada orang yang ta’at dinamakan Ma’unah dan jika berlaku pada
orang kafir atau orang fasik yaitu ada empat macam: |
| 1. |
dinamakan Istidraj
pada Johirnya bagus dan hakikat menyalahi |
| 2. |
dinamakan Kahanah
yaitu pada tukang tenung |
| 3. |
dinamakan Sa’uzah
yaitu pada tukang sulap mata |
| 4. |
dinamakan Sihir
yaitu pada tukang sihir |
|
~~~~~~~ oOo
~~~~~~~
|